i love your blushy smile and your simple thank you in this afternoon <3
i love your blushy smile and your simple thank you in this afternoon <3
“Aku kangen”. Sejenak ingin rasanya aku mengetik kalimat itu untukmu, namun ku urungkan niatku. Aku hanya terdiam memandangi layar hp. Teringat bbmku beberapa hari lalu, yang jangankan kamu balas, dibaca pun tidak.
“Sebenarnya aku kangen, tapi aku ga pernah mau bilang”. Kamu bertanya kenapa. “Soalnya tiap aku kangen belum tentu bbmnya kamu baca. Daripada sakit hati, yaudah mendingan ga usah bilang”.
Kamu hanya bilang maaf. Kata maaf yang makin lama makin kehilangan artinya. Maaf yang selalu aku beri tanpa kenal bosan. Maaf yang hanya terdiri dari 4 huruf. Yang mungkin diucapkan tanpa ketulusan, hanya asal bunyi.
Kamu tidak pernah tahu bagaimana sakitnya menahan rindu. Rindu yang hanya diobati dengan pertemuan sebulan sekali, yang bisa dibilang definitely-not-a-quality-time-for-us. Kamu tidak pernah tahu bahwa pertemuan singkat itu sudah bisa membuatku bahagia. Bahagiaku sesederhana itu.
Kamu tidak pernah tahu aku selalu berat melepas kepergianmu. Karena kamu tidak pernah tahu betapa sulitnya untuk melihatmu dengan yang lain. Dimana seharusnya itu aku. Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku. Kamu tidak pernah tahu, sayang…..
Freja Beha Erichsen for Saint Laurent Pre-Fall 2013 by Hedi Slimane
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya cinta itu ga lepas dari unsur SARA. Katanya cinta itu bersifat universal. Tidak pandang bulu. Dapat menyatukan yang terpisah. Katanya cinta dapat menaklukkan benci dendam. Haruskah kita percaya?
Perbedaan. Katanya perbedaan itu indah. Katanya beda itu memperkaya. Tapi bagaimana kalau perbedaan menjadi alasan untuk (terpaksa) berpisah? Bagaimana kalau perbedaan yang katanya indah itu menjadi bumerang untuk kita?
Entah itu beda keyakinan, beda kasta, beda suku, beda prinsip, beda status sosial, sampai beda orientasi seks. Kenapa harus ada perbedaan kalau cuma jadi penghalang? Dan kenapa harus mengatasnamakan cinta kalau ternyata cinta dapat dikalahkan oleh perbedaan? (May 2nd, 2013)
I hate to be the second option. Because being the first is always better than the second one. Because everyone wants to be someone’s priority. Let me be the one, not the second one.
I hate the fact that I’m still waiting for you and I hate to admit that I still wanting you that much. I know you’ll hurt me every time you call me. I lost my trust on you. Every single word from you is fake. You always broke every promise you’ve made. And I’m still the old stupid Dita. Don’t you remember that the one who you love most is the one who hurts you most?
The best people possess a feeling for beauty, the courage to take risks, the discipline to tell the truth, the capacity for sacrifice. Ironically, their virtues make them vulnerable; they are often wounded, sometimes destroyed.
(Source: musingsofmyliking, via hoodoothatvoodoo)
… sometimes blocked in, sometimes reaching out,
one moment your life is a stone in you, the next a star.
(via hoodoothatvoodoo)
There is a terrible emptiness in me, an indifference that hurts.
(Source: clairvoyant---disease, via hoodoothatvoodoo)
Marc Lagrange